Selasa, 01 September 2009

Sunardian : Centhini Sebuah Diary Novel

Pengantar oleh Sunardian Wirodono

SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini.
Serat Centhini, mulai ditulis pada Sabtu Pahing, 26 Mukharam Je 1724 (tahun Jawa) atau pada 8 Januari 1815, oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura.

Sebagai sebuah karya sastra, memenuhi syarat sebagai sebuah mahakarya yang memiliki pengaruh luas. Sampai banyak orang bisa berkomentar dan menilai, sekali pun sama sekali belum pernah membacanya, sampai hari ini. Begitu hebatnya ia, sampai-sampai karya ini muncul dalam banyak versi. Setidaknya ditengarai ada 12 versi Serat Centhini, dan itu sudah cukup menunjukkan kelasnya.
Daerah tebanya begitu luas. Ia mengenai apa saja. Bukan hanya mengenai sastra atau seni, melainkan juga tentang adat-istiadat, obat-obatan, makanan dan minuman (jaman sekarang disebut kuliner), pengetahuan tentang hewan, tanaman, agama, sejarah, dan bahkan tentang seks. Tentang yang terakhir itulah, Serat Centhini antara lain dikenal luas. Karena Serat Centhini-lah karya sastra Jawa pada waktu itu, yang berbicara berterus-terang perihal seks. Penjabarannya, bukan hanya verbal tetapi kadang liar. Dalam Serat Centhini, juga dikisahkan bagaimana terjadi anal seks atau pun praktik homo-seksualitas. Dan bahkan, seks massal,...

Pada bagian-bagian yang berkait dengan seks itu, konon Pakubuwana V sendiri yang turun tangan, menulis langsung. Itu terjadi setelah tiga penulisnya dirasa tidak memuaskannya. Tidak nges, dan kurang lugas. Kurang mak nyus, kata almarhum Prof. Dr. Umar Kayam (yang kemudian ditirukan atau dipopulerkan oleh pakar kuliner Bondan Winarno). Maka, Serat Centhini jilid 5 s.d 10 yang ditulis sendiri oleh sang Raja, sebagaimana kemudian bisa dibaca dalam kitab Serat Centhini sekarang ini.
Ia mendapat banyak sebutan, sebagai karya korpus, monumental, sastra kanon yang begitu lengkap dan mencengangkan, karena cakupan isinya yang ensiklopedis, gaya bertuturnya, serta ketebalannya. Bayangkanlah, pada abad 19 itu, lahir karya sastra yang secara liris dan intens, ditulis sebanyak 12 jilid, dengan 722 pupuh tembang (jenis puisi Jawa). Satu pupuh tembang, tak jarang terdiri dari ratusan kuplet (bait), bahkan ada beberapa yang mencapai lebih dari 300 kuplet. Dan masing-masing kuplet terdiri antara 6 hingga 12 baris.

Bisa dibayangkan, kepiawaian bahasa para penulisnya. Karena masing-masing pupuh tembang diikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata yang terukur dan terhitung pasti), dan guru lagu (akhir suku kata masing-masing baris yang baku, untuk mendapatkan pola pantunnya). Karena itu, kata-kata dalam bahasa Jawa yang dipakai para penulisnya begitu lentur karena mengejar rima dan bunyi.
Karena itu ketika Serat Centhini itu dilisankan (ditembangkan) siapa pun sepanjang mengetahui cara menyanyikan pupuh tembang itu, Centhini menjadi komunikatif, mudah untuk diapresiasi, dan mudah untuk disosialisasikan. Bahkan terbuka ditafsirkan dan punya kecenderungan bias, karena faktor pendengaran, pengertian, atau ingatan. Hal ini menjadi mudah terjadi, karena tembang sebagai sastra lisan yang jamak dilakukan pada waktu itu, terjadi dalam berbagai bentuk pertemuan banyak orang, ketika berada dalam upacara sunatan, pengantin, atau berbagai pertemuan-pertemuan rutin, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat, dalam berbagai waktu dan tempat.

Karena itulah Centhini bisa muncul dalam banyak versi. Seperti Centhini Pegon. Centhini Jalalen. Centhini versi Madura. Dan lain sebagainya. Tidak dalam niat menyamakan, demikian pulalah ketika para sahabat Muhammad SAW hendak mengumpulkan hadist nabi, yang tentunya disampaikan secara lisan. Maka ketika hadist itu hendak dikumpulkan dan dituliskan, dibutuhkan para perawi hadis yang sahih, yang bisa menjamin tingkat kebenarannya. Apalagi, untuk kasus penulisan Alquran, yang dilakukan setelah nabi wafat. Demikian pula dengan kasus penulisan Injil, yang ditulis berdasar penuturan sahabat-sahabat Jesus seperti Lukas, Paul, Johannes dan lain sebagainya.
Percontohan dalam karya sastra Indonesia, mungkin bisa ditemui pada novel “Para Priyayi” (1992) Umar Kayam, yang pembagian bab-nya ditulis menurut sudut pandang “aku” tokoh-tokohnya. Atau pada lahirnya novel kwarternarius “Bumi Manusia” (1980) Pramoedya Ananta Toer. Yang konon sebelum dituliskan, justeru dilisankan. Didongengkan terlebih dulu kepada sesama napi di Pulau Buru, untuk kemudian baru ditulis.

Serat Centhini (1815) berada dalam nasib berbeda, karena ia “hanya” sastra Jawa, yang tentu tidak segawat kasus penulisan kitab agama yang membutuhkan kesahihan dan kecanggihan. Demikian pula, ia bukan sastra teks Indonesia yang “mulia”, yang mempunyai para ahli kritiknya masing-masing. Sehingga perlu ada studi perbandingan atau studi kritis, sebagaimana dialami oleh Umar Kayam atau Pramoedya.
* SERAT Centhini, dari teks Sang Raja kemudian berkembang-biak di masyarakat lata, dengan berbagai dampak pembiasan. Dan tidak terjadi huru-hara apa pun. Setidaknya, munculnya banyak versi itu justeru diyakini sebagai pengayaan. Apa yang dimaksudkan oleh Pakubuwana V, menemukan wadahnya. Bagaimana kebudayaan Jawa menjadi sesuatu yang hidup dan berkembang. Toh pada hakekatnya, berbagai isi pengetahuan dan panduan dalam Serat Centhini mengenai kebudayaan Jawa, masih tetap diketahui dan dipraktikkan dalam kehidupan keseharian manusia Jawa sampai hari ini. Bahwa kebudayaan pada jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang, bukankah demikian kehidupan itu berubah dan berkembang?

Tidak ada yang gawat dalam harmoni kehidupan Jawa. Semuanya rileks dan santai saja. Ia telah menjadi sastra komunal.
Semangat berkomunikasi (dalam tradisi kelisanan) pada Serat Centhini pun seperti itu. Ketika Serat Centhini harus pula memuat tentang teks-teks agama (Islam), karena ia memang diobsesikan untuk memuat apa saja tentang ilmu pengetahuan masyarakat Jawa waktu itu. Ia bergerak begitu saja bersamaan dengan kondisi waktu yang melingkupinya. Kenapa? Karena Centhini, sekali lagi, diobsesikan menjadi karya ensiklopedis, sebuah bothekan, yang menampung apa saja sehingga masyarakat Jawa mempunyai rujukan atau panduan. Maka Serat Centhini menjadi besar, karena ia menjadi referensi masyarakat. Referensi dalam obat-obatan, keris, memilih kuda, memilih pasangan hidup, membangun rumah, dan lain sebagainya, seperti halnya pengetahuan tentang agama itu.

Maka, ketika para penyelidik modern mengkritisi Serat Centhini dalam konteks sinkretisme Jawa-Islam, mempertentangkan pandangan kebatinan Jawa yang masih animistik dengan Islam, dan membacanya sebagai tidak munculnya resistensi sebagai sesuatu yang khas Jawa, atau pola inkulturasi yang tidak genuine serta agak dipaksakan, saya kira biarkanlah menjadi keributan para akademisi yang selalu membutuhkan ukuran-ukuran scientific. Persis sebagaimana kehidupan yang terekam dalam tokoh-tokoh Serat Centhini, praktik kehidupan masyarakat Jawa yang memahami kehidupan sekuler berdampingan aman dengan kehidupan religi.


Saya justeru melihat kehebatan Centhini dari yang diobesikan oleh Pakubuwana V. Bagaimana ia bisa memberikan rujukan atau referensi pada masyarakat Jawa (pada waktu itu) yang tentu saja dengan situasi dan kondisi teknologi serta penghetahuannya, telah berjasa besar dalam menyebarkan berbagai pengetahuan dan kebudayaan manusia kepada masyarakat ramai. Sampai hari ini. Dari sisi ilmu komunikasi, betapa sang raja memiliki kemampuan membaca sosiologi komunikasi masyarakatnya. Ia adalah seorang komunikator yang ulung. Bayangkan, jika Pakubuwana V berada di jaman internet sekarang, mungkin saja beliau akan menulis Serat Centhini di website atau face-book!
Bagaimana penyebaran dan pembelajaran agama (Islam) yang masih terbatas pada pesantren-pesantren, dibakukan dalam teks itu, dan kemudian dilisankan di berbagai pertemuan masyarakat Jawa, yang memang masih bertradisi budaya lisan. Saking seriusnya dengan harapan atas manfaat buku itu, sampai perlu Pakubuwana V mengutus Ki Ngabei Sastradipura mendalami agama Islam, dengan cara mengirimnya untuk naik haji (hingga kemudian, dalam proses penulisan Serat Centhini itu, yang semula bernama Ki Ngabei Sastradipura ketika proses observasi, dalam proses penulisan kreatifnya beliau sudah berganti nama menjadi Kyai Haji Muhammad Ilhar). Dan Pak Haji ini, ikut dalam proses penulisan sebuah buku yang juga menjabarkan pengetahuan tentang seks.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mendukung perlunya Undang Undang Pornografi, mungkin akan geleng-geleng kepala melihat hal ini.
Namun seks yang seperti apa? Karena ia bersifat ensiklopedis, tentu saja penjabarnnya menjadi berbeda. Sebagaimana juga dalam penajabaran faham pun, ia berada dalam semangat itu. Tidak ada korelasi dengan resistensi, harmoni, atau sinkretisme sebagaimana digawatkan oleh para akademisi. Dalam pola pemahaman rakyat jelata, Serat Centhini telah menjadi rujukan dan dipraktikkan. Sumber referensi dan menjadi panduan. Bayangkanlah, karena kitab ini juga bertutur tentang Nabi Sulaiman, Jibril. Berkisah tentang bangsa Yahudi Israel, atau bahkan pertemuan antara Ki Abdullah dengan Nabi Isa (Yesus Kristus), ketika Ki Abdullah meminta agar menghidupkan kembali isterinya yang telah mati (Serat Centhini, 154:49-53).

Berbeda nasibnya dengan “Para Priyayi” Umar Kayam, yang sering dibantai habis para kritikus, dengan mengatakan bahwa Umar Kayam adalah novelis yang gagal karena ia sosiolog. Persis sebagaiamana kritik terhadap novel-novel esai dari Sutan Takdir Alisyahbana “Grotta Azzura” yang dikesankan cerewet serta sok pintar. Semua tokoh-tokoh dalam novel seperti itu, sebagaimana YB Mangunwijaya juga mengalaminya dalam trilogi Rara Mendut, tokoh-tokohnya tidak berjiwa, dan hanya terdiri dari otak si penulis. Pramoedya, menjadi menonjol, karena beliau seorang pengarang, yang hidup sebagai penulis.
Tapi, biarlah itu keriuhan yang mengembangkan dunia ini. Sepanjang semua masih berjalan dengan memberi kebebasan pada orang lain untuk menafsir, serta tidak dalam semangat melenyapkan orang lain. Tidak ada yang perlu dikhawatikan.

*


KESULITAN kita sebagai generasi sekarang yang lebih melek huruf, dan dibesarkan dalam tradisi teks. Serat Centhini sebagai karya sastra menjadi tidak gampang dimengerti, bahkan oleh mereka yang kesehariannya bertutur dengan bahasa Jawa. Karena aturan dan pola tembang itu, memungkinkan terjadi dasanama, sinonim, atau pengubahan kata yang membuat kita bisa kebingungan. Nama tokoh-tokohnya pun, karena mengejar jumlah suku kata dalam satu baris (guru wilangan) bisa berubah-ubah. Jayengresmi, bisa saja menjadi Jengresmi. Atau karena harus patuh pada guru lagu, dalam satu barisnya Seh Amongraga bisa saja ditulis Seh Amongragi.. Ki Bayi Panurta, mertua Seh Amongraga, sering disebut Ki Bayi, tetapi jangan bingung jika dalam baris lain disebut sebagai Ki Baywa. Belum lagi nama Panurta bisa pula berubah menjadi Panurteki. Itu bukan salah cetak atau salah tulis, namun karena pola puisi yang harus dan tidak boleh ditawar. Dan seterusnya. Maka, cobalah kita baca, bagaimana ketika sehabis upacara pengantin, dan Seh Amongraga hendak mengetahui sejauh mana pengetahuan Tambangraras membaca Alquran dan memulainya dengan basmalah dan surat Al Fatihah (Serat Centhini Jilid VI, pupuh 361, Kinanthi, pada gatra 126). Begini bunyinya:

“(bismilahi//)
Rahmanirakim alkamdu
lilahi robil ngalamin,
arahmani rakimma, malikiyaomidini,
wa iya kanabudua, wa iya kanastangini,...//

Karena gatra itu berada dalam pupuh (jenis) tembang Kinanti, yang pola persajakannya haruslah satu kuplet terdiri dari enam baris. Baris pertama harus terdiri dari delapan suku kata dan berakhiran bunyi huruf “u”. Baris kedua, delapan suku kata, berakhiran huruf “i”. Baris ketiga, tujuh suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-empat delapan suku-kata, berakhiran huruf “i”. Baris ke-lima delapan suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-enam delapan suku kata, berakhiran huruf “i”.

Lihatlah melalui kasus ini: Dalam baris pertama, hanya disebut “rahmanirakim alkamdu” karena kata bismilah sudah ditulis pada baris terakhir kuplet sebelumnya. Baris ketiga ditulis “arahamni rakimma” bukan “arrahmani rakim” karena jumlah suku-kata (guru wilangan harus tujuh, bukan enam). Demikian pada baris berikutnya ditulis “malikiyaomidini” dan bukan “malikiyaomidin” karena akan kurang satu ketukan (suku kata). Begitu juga kenapa “wa iya kanabudua” dan bukan “wa iya kanabudu”, karena suku kata terakhir harus (jatuh pada sukon wulon atau guru lagu) berbunyi “a” bukan “u”. Maka pada baris terakhir, kasus penambahan suku kata sebagaimana baris 2, 3, 4 dan 5, bisa dimengerti (dalam Serat Centhini mengenai tembang ini dijelaskan dengan runtut dan jelas pada Jilid VI, Pupuh 367 dari bait 145 sampai dengan 226. Bahkan dikatakan, bahwa menurut Kyai Kelipa Buyut Mataram, para pujangga kuno meyakini pupuh atau jenis tembang Jawa itu semuanya ada 49. Hingga kemudian yang selazimnya dikenali hanya berjumlah sekitar 11, 12, 13.

Perbedaan angka itu, karena tidak semua jenis tembang populer atau dipakai oleh beberapa orang di beberapa daerah berbeda seperti Sala, Yogyakarta, atau pun beberapa kota lainnya. Banyumas, Semarang, Madiun, Bojonegoro, dan lain sebagainya).
Yang menarik, gaya penuturan Serat Centhini sesungguhnya full humor. Khususnya ketika bertutur soal seks, atau memberikan laporan pandangan mata mengenai tingkat-polah dan perilaku masyarakat Jawa. Bahkan, ketika menuliskan tamu-tamu undangan dalam pesta perkawinan Amongraga-Tambangraras. Ada ratusan tamu, dari lurah (kepala desa), sanak-saudara, blantik, para ulama, pedagang. Nama mereka disebutkan satu-satu, hingga bait-bait tembang hanya berisi daftar nama (lihat Serat Centhini jilid VI, pupuh 357, Mijil, dari bait 234 s.d 280).

“Ki Pandu Tarumpaka Wiranggi,/
Ki Dhemes Selobog,/
Ki Pandelem Sumbreng Kebak Jolen,/
Bambang Eko Bawen Moga Penggik,/
Bancang Wora-wari,/
Dhempel Kuwel Mandul,...//”

itu adalah nama-nama diantara para tamu Ki Bayi Panurta. Bayangkan kalau ratusan tamu itu disebutkan semuanya. Belum lagi nama-nama yang aneh seperti Ki Centhing, Pak Rumiyah Rajin, Pak Nakirah Kobis (pastilah ini pedagang sayur khususnya kol-kobis), Pak Remu, Pak Murah, Pak Surem, Pak Beser (mungkin karena kebiasaannya), Pak Garem (penjual garem), Ki Mangkurah Kunci. Ada juga beberapa nama seperti Pak Tomas (mungkinkah dia Katholik?), Ki Cek Yik, Ki Dokerok, Mangundrana Paris (apakah dari Paris, kota asal penulis Elizabeth D. Inandiak yang Perancis itu?).


Belum lagi ketika mencandra (menggambarkan dan menyindir) bagaimana penampilan para tamu dengan aneka rupa pakaiannya. Khas sinikal orang linuwih yang mengritik habis gaya hidup orang-orang setengah matang, yang tidak mengerti adat-istiadat sebenarnya.
Pada pupuh tembang yang lain, seperti Dandhanggula, Mijil, Pocung, Asmaradhana, Pangkur, lain lagi aturannya. Ada 12 jenis tembang dalam Serat Centhini, bahkan sampai pada jenis tembang Lontang, yang sama sekali sudah tidak dikenali lagi oleh masyarakat Jawa, bahkan mereka yang bergulat dengan (seni musik) karawitan Jawa sekali pun.

*


PERLU dijelaskan sedikit mengenai isi Serat Centhini ini. Agar panjenengan semua yang belum mengetahui tidak kebingungan.
Sengkala (penanggalan) Serat Centhini, yang berjudul asli Suluk Tambangraras, berbunyi “paksa suci sabda ji”, atau 1742 tahun Jawa atau 1815 tahun Masehi, yakni sekitar lima tahun sebelum penobatan KGPAA Amangkunagara sebagai Sunan Pakubuwana V, si empunya gagasan. Suluk Tambangraras (diambil dari nama tokoh Tambangraras, bandara putri Centhini yang dinikahi Syekh Amongraga), bersumber pada kitab Jatiswara, yang ditulis semasa Sunan Pakubuwana III bertahta. Tapi tidak diketahui, siapa penulis kitab tersebut. Tujuan penulisan Suluk Tambangraras, jelas dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom Amangkunegara, dengan para penulis istana, yaitu Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura.

Sebelum dilakukan penulisan, ketiga penulis tersebut mendapat tugas khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Sastranegara bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji, dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. Dan ketika mereka kembali, bak peneliti lembaga studi jaman sekarang dengan para funding dan sponsornya, mereka pun kemudian bekerja, menulis.
Kitab itu disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar yang juga diutus Sultan Agung dari Kerajaan Mataram untuk menggempur Giri. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah kelahiran mereka, untuk melakukan pengelanaan, karena kekuasaan Giri dihancurkan Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengsari, dan si bungsu Rancangkapti, satu-satunya anak perempuan.

Dalam pelariannya, mereka berpisah jalan. Jayengresmi berjalan ke timur, sementara Jayengsari dan Rancangkapti ke barat.
Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang, Banten.

Jayengresmi mengalami pendewasaan spiritual dalam berbagai perjumpaan dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa. Mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Hingga kemudian bertemu Tambangraras, yang menjadi istrinya.
Sang isteri Tambangraras, memiliki pembantu bernama Centhini, yang meladeni apa pun kebutuhan Tambangraras, sampai ia juga yang harus menunggui malam-malam pengantin Amongraga dan Tambangraras, karena antara Tambangraras dengan Centhini seolah saudara kembar. Tambangraras mempunyai ketergantungan kepada Centhini, sampai pun ketika sudah menikah, ia meminta (ini tafsiran saya, SW) agar Centhini tidak akan pernah jauh darinya. Dalam konteks ini, dengan semangat sastra lisan dan kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, bisa jadi dari sinilah nama Suluk Tambangraras mengalami pembelokan dan lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Karena pada bagian hadirnya Centhini ini, Suluk Tambangraras masuk dalam episode yang paling menggairahkan, yakni tentang seks. Meski dalam bibliografi Perpustakaan Karaton Surakarta, yang disusun Nancy K. Florida, sudah dituliskan sebagai “Serat Centhini” (bertahun 1815) pula.

Centhini menjadi sosok sentral, justeru semua orang (yang ingin segera mengetahui apakah Tambangraras sudah disetubuhi oleh Amongraga) menunggu informasinya. Karena dialah satu-satunya orang paling dekat dengan Tambangraras. Demikian juga tentunya, para pembaca dan pendengar tembang Suluk Tambangraras itu kemudian, karena Centhini seolah adalah alterego Tambangraras. Hal itu akan lebih kentara nanti, ketika Syekh Amongraga minggat dari Wanamarta dan disusul oleh Tambangraras bersama Centhini yang menyaru sebagai laki-laki.
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan di tempat lain, Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma, Banyumas. Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan selamatan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Seh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritual, menuju tingkat yang lebih tinggi lagi. Yaitu berpulang dari muka bumi, meninggalkan raganya.
Penggunaan Giri dan Mataram (antara Sunan Giri dan Sultan Agung Anyakrakusuma), menyiratkan dua pandangan Islam yang “berbeda”. Dan perjalanan Jayengresmi beserta adik-adiknya, menjadi tampak simbolik. Yang pada akhirnya, mereka kelak pun juga “tunduk”, menjelma menjadi “ulat” dan kemudian “dimakan” oleh Sultan Agung. Ada banyak tokoh dan tempat disebut dalam Serat Centhini. Meski setting waktu kejadiannya, berkisar pada jaman kekuasaan Sultan Agung Anyakrakusuma. Namun rentang waktu yang terangkum dalam kisah-kisah Centhini, begitu lentur ke mana-mana, hingga sampai pada Syekh Wali Lanang (jaman peralihan Majapahit Hindu ke Islam) dan Syekh Siti Jenar dalam jaman Mataram Islam.

Ia merangkum kebudayaan Jawa yang telah berkembang pada era Sebelum Masehi hingga abad ke-18 Masehi. Aneka karakter tokoh bermunculan di sini, sampai pada nama-nama yang kontroversial seperti Mas Cebolang, dan Ki Nuripin yang gila seks dan pengidap penyakit “kotor” gonorhea.
Serat Centhini, boleh dikata sebagai ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya.

Para kritikus memuji kitab ini, sebagai karya sastra Jawa yang megah, mewah, indah dan bermutu tinggi.
Teknis bertutur pada Serat Centhini pun, berbeda dengan karya sastra Jawa pada umumnya. Pada karya ini, terlihat penjarakan, yakni obyek tuturan dibiarkan sebagai obyek, dipaparkan begitu rupa tanpa pemasukan unsur subyektif penulis, sebagaimana model tuturan karya penulisan yang berkembang di Eropa pada waktu itu. Sesuatu yang belum lazim dalam tradisi Jawa, karena baik dan buruk dalam kebudayaan Jawa dituliskan begitu saja, apa adanya. Soal apa adanya itu, memang jadi kontroversial, karena sampai kini pun ketertutupan kita memposisikan Serat Centhini sebagai “kitab yang kotor”. Namun, banyak ilmuwan yang membicarakan, mengkaji dan menimba ilmu pengetahuan Jawa dari Serat Centhini, yang kaya akan data dan fakta.

Tidak berlebihan bila para ilmuwan besar, menyebut serat yang disusun atas prakarsa Pakubuwana V di Surakarta ini, sebagai warisan sastra dunia. Karya sastra ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dokumentasi dan klasifikasi berbagai ilmu pengetahuan, menunjukkan wibawa para elit cendekiawan Jawa, mampu berkomunikasi di panggung ilmiah internasional.
* SERAT Centhini, bersamaan Serat Gatholoco dan Serat Darmo Gandhul, adalah buku-buku yang saya kenali sejak kecil, bahkan sebelum saya bersekolah. Bukan karena ayah saya yang seniman (pemain kethoprak) sebagai penggila buku, melainkan karena ayah saya waktu itu pernah membuka perpustakaan untuk umum.

Yang saya maksud mengenali buku-buku itu, tak lebih sebatas tahu semata. Membaca secara “parah” belum pernah, karena masih dalam bahasa aslinya, Jawa klasik, dan dalam bentuk tembang pula, sehingga menurut saya tidak menarik. Karena tidak mudah dimengerti maknanya. Jangankan isinya, bahasanya saja saya tidak pernah mudheng alias faham.
Masa kecil saya, lebih bergelimang dengan koleksi buku perpustakaan yang saat itu sedang laris, novel-novel pop bahasa Jawa modern seperti yang ditulis oleh Any Asmara atau Suparto Brata. Ya, novel-novel pop yang kadang full percintaan dan petualangan asmara. Juga beberapa koran seperti Kembang Brayan, Jaka Lodhang, serta Swadhesi dan Anjangraya. Dua yang disebut terakhir (yang selalu dibeli eceran oleh kakak saya yang berjualan di Pasar Beringharjo), adalah koran kuning yang penuh dengan berita kriminal, yang tentu sama sebangun dengan koran-koran jenis seperti itu di masa sekarang, dibumbui ramuan mengenai seks dan mistik.

Untungnya, disamping membeli koran itu, dibeli juga koran Pelopor Yogya, hingga saya sempat membaca beberapa nama penulis beradab dari rubrik Sabana dan Persada Studi Klub yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi.
Baru ketika menginjak SMP, saya banyak mendapatkan informasi, bahwa Serat Centhini, Gatholoco, dan Darmo Gandhul merupakan bacaan yang jauh lebih “gila-gilaan” dalam menguraikan perihal seks, dibanding novel-novel, komik, Any Arrow, dan bacaan lain yang waktu itu leluasa saya baca. Saya menyesal, karena ketika kemudian mengubeg-ubeg mencarinya, buku tersebut sudah tidak ada di rumah. Untuk menanyakan di mana buku tersebut, saya malu dan tidak berani, karena masih duduk di SMP. Hingga kemudian saya menjumpainya ketika sudah dewasa (dan bertemu langsung dengan beberapa nama yang dulu saya bacai di koran Pelopor Yogya). Dan tetap saja bagi saya tidak menarik. Bahkan ketika almarhum Linus Suryadi AG (penyair, prosa lirik Pengakuan Pariyem) menawari kemungkinan saya untuk mengindonesiakan Serat Centhini, tentu saja yang sudah dilatinkan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo almarhum, tidak juga menggerakkan saya. Maafkan Mas Linus, semoga damai di Sorga! Namun karena saya terlibat dalam proses penulisan kreatif “Pengakuan Pariyem” (1979-1981) Linus Suryadi AG itu, intensitas perkenalan dengan Serat Centhini lumayan intensif, meski pun kemudian terpaksa saya tinggalkan karena pengembaraan selama hampir seperempat abad di Jakarta.

Saya baru benar-benar tergerak, ketika pada suatu waktu, saudara Edie AH Iyabenu, direktur penerbitan Diva Press, menantang saya menovelkan Serat Centhini. Tergerak, karena beliau memberi kebebasan tafsir pada saya, dan saya juga dibebaskan untuk mengekspresikan kembali dengan cara yang saya sukai.

Serat Centhini sendiri menyediakan diri sebagai teks terbuka. Ia memberikan outline yang multitafsir untuk dikembangkan. Dan itu mengagumkan.
Memang usaha pengindonesiaan mengenai Serat Centhini sudah dilakukan, setidaknya oleh UGM, setelah dirintis (penglatinan dari aksara Jawa) oleh Karkono Kamadjaja dan kawan-kawan (1981). Juga bahkan diperanciskan oleh Elizabeth D. Inandiak (yang kemudian dari sana dialihbasakan ke Indonesia, sebuah keajaiban budaya ketika Serat Centhini mengalami perjalanan mistical cultural dari Jawa, Perancis, baru Indonesia). Namun, semuanya masih dalam bentuk dan konteks Serat Centhini aslinya, yang bagi saya, masih terasa eksklusif.

Tentu saja, itu bukan cacat karena ia bernama pilihan. Saya dalam rangka sangat menghargai berbagai upaya itu. Dengan segala hormat dan ketulusan hati. Apa yang dilakukan Karkono, KRMT Sukmahatmanta, Daru Suprapto, Elizabeth D. Inandiak, adalah upaya para mujahid yang amat berguna bagi Serat Centhini di masa-masa mendatang.

Sekarang ini, di dunia maya internet, Serat Centhini termasuk sastra Jawa yang paling berjaya dalam berbagai situs. Banyak anak muda mengakses, meski banyak situs merupakan copy-paste satu sama lain, dan ada banyak bias informasi di situ (ada juga yang menganggapnya kutipan Serat Centhini, padahal yang dimaksud Serat Kalatida), dan seterusnya. Serat Centhini mungkin satu-satunya karya yang banyak dikutip anak muda, tanpa harus mengetahui bahasa dan maknanya.
Mimpi untuk turut “mengindonesiakan” Serat Centhini, dan “mencairkannya” dari kebekuan eksklusivitas tembang (puisi) Jawa, makin tergoda ketika saya mendengar upaya untuk penerbitan “The Centhini, the Javanese Journey of Life Story” dalam bahasa Inggris oleh Suwito Santoso dan Kesty Pringgohardjono (2008). Dan bagi saya, Centhini garapan Pak Suwito dan Bu Kesty, adalah buku yang mengesankan, ketika melihat Centhini secara proporsional dalam konteks jamannya. Alangkah juga bagusnya, jika buku ini bisa terbit dalam edisi Indonesia. Karena, jika tidak, akan juga terasa betapa tragisnya Indonesia, ketika Serat Centhini di-Indonesia-kan (meski via bahasa Perancis) oleh penulis Perancis, atau teks yang sama di-Inggris-kan oleh orang Jawa. Meski fenomena itu sudah disinggung oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang ditulis setelah Serat Centhini. Maaf, ini bukan pernyataan rasis, melainkan ungkapan cinta buta.

Bersamaan dengan kegelisahan itu, tawaran saudara Edi AH Iyabenu itu, saya sambut dengan surprise dan terharu. Itu salah satu energi yang membuat saya menyelesaikan Centhini dalam versi novel ini. Pengertiannya, bahwa saya sepenuhnya berangkat dari teks Serat Centhini selengkapnya, dan sefahamnya (sebisanya). Tetapi, apa yang saya tulis, adalah tafsir ulang bukan hanya pada teks, melainkan konteks jaman dan situasi batin tokoh-tokohnya, serta teknis dan sudut pandangnya. Maafkan hamba, yang mulia Sinuhun Pakubuwana V. Bagaimana pun, andika adalah maecenas terdahsyat yang pernah dimiliki negeri ini, yang tidak juga ditiru-tiru meski pun presiden Indonesia silih berganti, baik dari orde ini dan itu, sampai pun pada jaman reformasi linglung ini.


Novel tafsir Centhini ini, dengan judul “Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin”, bersumber sepenuhnya pada Serat Centhini jilid V, VI, dan VII, berdasar Serat Centhini Latin dari Yayasan Centhini Yogyakarta, yang diupayakan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo dan diterbitkan sebagai buku pada 1989, meski upaya pelatinan yang pertama sudah mulai diupayakan pada 1981. Untuk diterangkan pula, sumber Serat Centhini Latin ini dari Serat Centhini koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Hal ini penting dikemukakan, karena berbagai versi yang ada mengenai Serat Centhini). Meski pun untuk upaya penafsiran, saya membandingkan pula dengan beberapa versi lain, sekali pun hanya sepintas lalu. Seperti “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” (2004) gubahan Elizabeth D. Inandiak, adalah rujukan penting yang menafsir 40 malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras.


Dalam Serat Centhini asli, tidak tercantum pengintipan pengantin itu. Bahkan, tidak terceriterakan detail malam-permalam. Dalam sekian banyak syair-syairnya, dari sejak jilid VI dan kemudian tersambung jilid VII, sebenarnya banyak bertutur mengenai urutan upacara pengantin Jawa, dari ijab, panggih (mempertemukan kedua mempelai), pahargyan (resepsi), kemudian sepasaran (lima hari dari ijab), ngunduh penganten (mengundang dan memestakan pengantin yang dilakukan oleh sanak-saudara), mendirikan rumah, dan boyongan (pindah dari rumah orangtua ke rumah baru milik sendiri). Baru setelah melewati 40 hari, dalam tradisi Jawa pengantin “harus” telah berdiri sendiri sebagai rumah tangga baru dengan rumah milik sendiri pula. Satu hal yang mungkin sekarang ini sulit terlaksana, meski tak sedikit yang sudah memiliki rumah sendiri meski belum menikah.
Dengan sekian banyak upacara dan ritual seperti itu, maka malam-malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras, tentulah muskil berada dalam satu tempat. Apalagi, dalam setiap kesempatan, Syekh Amongraga begitu “cerewet” membeberkan semua ajaran tentang agama. Bukan hanya di masjid atau pendhapa, melainkan di atas ranjang ketika hanya bersama Tambangraras.

Bukan ajaran yang ringan, karena merangkum syari’at, tarikat, makrifat, dan hakikat sekaligus. Meski tentu juga jadi pertayaan, apakah tidak ada persintuhan sama sekali, jika melihat begitu mesranya Syekh Amongraga memperlakukan isterinya, dengan selalu menyentuh tangan halus Tambangraras sepenuh perasaan,...


Ki Ngabei Sastradipura (yang kemudian bergelar Kyai Haji Muhammad Ilhar), bisa jadi melakukan copy-paste terhadap semua teks-teks Islam yang (baru saja) dipelajarinya. Dan sebagai “pembelajar”, cara itu mungkin paling selamat, sekali pun terasa agak dipaksakan. Hal yang kemudian dikritik oleh Dr. Mohammad Rasjidi, dalam disertasi filsafat “Considerations Critique du Livre de Centhini” di Universitas Sorbone Perancis (1956). Dikatakan oleh Menteri Agama RI jaman Sukarno ini: “...
para penulis Serat Chentini tidak menguasai bahasa Arab, oleh karena itu beberapa kalimat dan ajaran dalam bahasa Arab yang ditemukan pada karya itu tidak masuk akal,....” Mengenai kalimat dalam bahasa Arab, yang terdapat dalam Serat Centhini, bisa jadi yang dimaksud tidak menguasai dan tidak masuk akal, lebih karena problem “teknis” dari penulisan huruf asli Jawa untuk “menulis” bahasa Arab. Karena jumlah huruf Jawa dengan jumlah huruf Arab, di luar problem karakter dan filosofisnya, tentu merupakan persoalan tersendiri untuk “menaklukkan” bahasa itu.

Maafkan, sekiranya bahasa Arab ditulis dalam huruf Kanji Jepang, juga bisa dipastikan persoalannya akan sama tidak masuk akalnya. Ditambah lagi, Serat Centhini terikat bentuk tembang dengan aturan-aturan bakunya atas guru wilangan serta guru lagu, yang “mengakibatkan” bahasa Arab ditulis secara tidak lazim.
Untuk masalah tafsirnya, berkait dengan ajaran, tentu beliau lebih mengetahuinya.

Jika Serat Centhini ditulis ulang (mungkin dalam bahasa Indonesia) dan diprosakan, agar lebih bebas, pastilah kritik semacam Mohammad Rasjidi itu bisa diperhatikan, dan menjadikan Serat Centhini sebuah karya sastra ensiklopedis yang paripurna. Apalagi, dimasukkan dalam tim penulis para ahli agama. Mungkin, kanjeng sinuwun Pakubuwana V juga akan mengikhlaskannya. Tetapi mengutip pendapat Nyi Malarsih, ibu mertua Syekh Amongraga, semoga almarhum Mohammad Rasjidi bisa maklum, “... saking pikir kirang ngelmi, mung ilok-ilok kemawon.” (Itu semua karena tipisnya pengetahuan, hanya untuk hiasan saja, Serat Centhini, jilid VI, 359:70).


Ini adalah upaya untuk kita semua, karena kita diperbolehkan melakukan berbagai tafsiran di atas apa pun yang terpetakan di atas dunia. Apalagi, saya bukanlah orang yang percaya pada otoritas-otoritas tunggal, atau kemutlakan-kemutlakan, yang hanya menjebak kita untuk menilai ini lebih baik, itu lebih buruk. Dalam dunia kreatif, saya percaya aneka rupa tafsir itu mampu mengembangkan peradaban manusia.


Apa pun, terima kasih terbesar tentu pada saudara Edi AH Iyabenu, yang mempercayai dan memberi kesempatan. Terima kasih dan maaf saya yang tulus pada mas Gagat dan dik Titi atas persahabatan yang penuh kesabaran dan kekuatan. Terima kasih kepada Pawira Ngadena almarhum, ayah saya, yang telah membukakan pintu. Matur nuwun pula pada Aloysius Ngatiman, paman saya yang membantu pemahaman saya untuk bahasa Jawa yang super-uedan angelnya. Matur nuwun dan hormat saya pada Barbara Hatley (Monash Univercity, Australia) yang mendorong saya untuk tetap mencermati kesenian Jawa; Els Bogaerts, seorang Belanda yang pandai menari Jawa dan antusias mempelajari Jawa; Titiana Adinda yang mendukung data penulisan serta memberi perspektif gender; Arini Hidajati, yang dengan sabar mengoreksi dan mengikuti proses editing buku yang melelahkan ini; Juga kepada Lucianus Bambang Suryanto, serta mas Linus Suryadi AG (almarhum) yang masih menyimpan buku-buku Serat Centhini super uedan itu; Segala respek pada RPA Suryanto Sastroatmojo (KRT Sastra Hadinegara) almarhum, yang selalu mengingatkan saya pada Mas Cebolang, salah satu tokoh paling liar dalam Serat Centhini; Sembah sungkem pada simbah Kyai Mataram Sastrapratama yang sumare di Playen, Gunung Kidul; A.S.A., si pejuang Islam yang teguh, namun santun lagi cerdas dan bermanfaat itu.
Semoga menghibur, serta berguna.

Panasan, Yogyakarta, Nopember 2008

Slipi, Jakarta, April, 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar